Pendawa || NGAWI,— Tangis dan jeritan pilu keluar dari Indah Nur Fitria, ibu rumah tangga warga Kelurahan Beran, Kabupaten Ngawi. Bukan hanya karena bayinya meninggal dunia tanpa penjelasan medis yang jelas, tapi juga perlakuan oknum perawat RSUD dr. Soeroto Ngawi yang ia nilai menyakiti hati saat proses persalinan.
Sudah lebih dari sebulan, Indah menanti kronologi penyebab kematian buah hatinya. Namun manajemen RSUD milik Pemkab Ngawi itu belum memberikan penjelasan rinci.
*Bayi Meninggal, Penyebab Tak Kunjung Jelas*
Indah melahirkan bayinya melalui operasi sesar pada 21 April 2026. Namun selang beberapa hari, bayi tersebut meninggal dunia dalam perawatan RSUD dr. Soeroto.
“Sampai sekarang kami belum mendapatkan penjelasan yang rinci penyebab kematian bayi saya,” kata Indah, Kamis 4/6/2026.
Indah menceritakan, kondisi bayi sempat memburuk tengah malam. “Napasnya sudah tersengal-sengal dan kakinya membiru. Saya melihat kondisi bayi saya sudah kritis dan akhirnya meninggal,” kenangnya dengan suara bergetar.
Hingga kini ia hanya menerima hasil lab, diagnosis, dan rontgen. Kronologi lengkap dari dokter penanggung jawab belum ia terima. “Saya hanya ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi. Kalau memang tidak ada penjelasan, saya akan melapor ke Polisi supaya kematian anak saya terang dan saya bisa ikhlas,” tegas Indah.
*Trauma Body Shaming & Pelayanan Abai*
Di luar duka kehilangan, Indah juga menyimpan trauma. Ia mengaku mengalami body shaming dari oknum perawat.
“Mental saya hancur. Ada perkataan yang membuat saya sakit hati. Saya merasa dihujat karena kondisi tubuh saya. Ada yang bilang, ‘habis ini diet ya, rekoso banget kita’,” ujar Indah menirukan ucapan perawat.
Ia juga mengaku tak diberi kesempatan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) maupun menyusui bayinya pasca operasi sesar. Setelah melahirkan, Indah tidak diizinkan melihat bayinya. Hanya keluarga yang diizinkan memfoto untuk dokumentasi.
Ironisnya, saat berada di ruang pemulihan, Indah melihat perawat lebih sibuk memegang handphone ketimbang memperhatikan pasien. “Rasanya seperti ditelantarkan di saat paling butuh,” katanya.
*RSUD: Tunggu Dokter Penanggung Jawab*
Menanggapi hal ini, Kepala Bidang Pelayanan RSUD dr. Soeroto Ngawi dr. Yeni Rusmawati menyatakan pihak rumah sakit berkomitmen memberi penjelasan.
“Sebenarnya pertemuan sudah direncanakan dan pihak keluarga juga sudah pernah kami temui. Hasil laboratorium, diagnosis, dan rontgen pun sudah ada. Saat ini kami masih menunggu waktu yang tepat karena dokter yang menangani, dr. Siswanto Basuki, masih mengikuti kegiatan dari Kementerian Kesehatan,” kata Yeni saat dikonfirmasi terpisah.
Yeni menyebut tiga minggu lalu pihaknya sudah bertemu keluarga. Namun keluarga masih punya pertanyaan yang harus dijawab dokter penanggung jawab.
Terkait dugaan body shaming, Yeni menegaskan perilaku itu tidak dibenarkan. “Dalam etika pelayanan, tidak boleh ada body shaming. Kami tidak mengharapkan hal itu terjadi. Ini menjadi masukan bagi kami untuk evaluasi dan perbaikan pelayanan,” ujarnya.
Ia berharap dr. Siswanto segera bisa menemui keluarga untuk menjelaskan lengkap kondisi medis bayi sebelum meninggal.
*Tuntutan Keluarga: Transparansi & Kemanusiaan*
Kasus ini menyorot dua hal krusial: hak pasien atas informasi medis yang transparan, dan pentingnya etika pelayanan kesehatan.
Bagi Indah, penjelasan penyebab kematian bukan soal ganti rugi. “Saya cuma ingin tahu kebenarannya, biar bisa ikhlas. Seorang ibu berhak tahu kenapa anaknya pergi,” ucapnya lirih.
Hingga berita ini diturunkan, keluarga masih menunggu jadwal pertemuan dengan dr. Siswanto Basuki. Publik menanti apakah RSUD dr. Soeroto mampu menuntaskan duka ini dengan transparansi dan perbaikan nyata, bukan sekadar janji.(red)
